Minggu, 15 Juni 2008

PAK NATSIR DAN PALESTINA oleh: H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA email: ferryn2006@yahoo.co.id

Pak Natsir nama lengkapnya Mohammad Natsir, gelar Datuk Sinaro nan
Panjang, lahir di Minangkabau tanggal 17 Juli 1908, tepatnya di kampung
Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatrera Barat dari pasangan Sutan
Saripado dan Khadijah.
Beliau adalah tokoh bangsa, tokoh umat dan tokoh dunia Islam karena
aktifitas dan peran yang telah dilakukannya untuk Islam dan umat tanpa
mengenal lelah.
Pada tahun 1945-1946, pak Natsir menjadi anggota Badan Pekerja Komite
Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), tahun 1946-1949 menjabat sebagai
Menteri Peneranan RI,
tahun 1950-1951 menjadi Perdana Menteri RI.
Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, pak Natsir
sangat dikenal, dihormati dan disegani, beliau ikut serta dan terlibat
pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional, tahun 1967
diamanahkan menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam
Islami), Karaci, Pakistan, tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League,
Mekah, Saudi Arabia, tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al Alam lil
Masajid, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas
pengabdiannya kepada Islam dari King Faisal, Saudi Arabia, tahun 1985
menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable
Foundation, Kuwait, pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The
Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota majelis
Umana’ International Islamic, Univesity, Islamabad, Pakistan.
Ketika Subandrio naik haji dan ingin bertemu dengan Raja Faisal, Raja
Faisal tidak mau menerimanya. Setelah diusahakan oleh pihak KBRI Jedah dan
prosesnya agak lama, akhirnya Raja Faisal mau juga menerima Subandrio yang
saat itu menjadi orang penting di Indonesia. Subandrio menceritakan
tentang Islam di Indonesia, juga menceritakan perannya membela Islam,
kisah naik haji dan lain-lain.
Tanpa disangka dan diduga oleh Subandrio, Raja Faisal langsung bertanya, “
Kenapa saudara tahan Mohammad Natsir?”. Pak Natsir pernah diasingkan oleh
pemerintah Orde Lama ke Batu Malang, Jawa Timur (1960-1962) dan menjadi
“tahanan politik” di Rumah Tahanan Militer (RTM) Keagungan Jakarta
(1962-1966).
“Saudara tahu”, kata Raja Faisal. “Mohammad Natsir bukan pemimpin umat
Islam Indonesia saja, tetapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!”.
Dalam bidang akademik, Pak Natsir menerima gelar Doktor Honoris Causa
bidang Politk Islam dari Universitas Islam Libanon (1967) dalam bidang
sastra dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan dalam bidang pemikiran
Islam dari Universitas Saint dan Teknologi Malaysia (1991).
Perhatian dan kepedulian Pak Natsir terhadap Palestina terus bergelora,
tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas, walaupun usianya sudah
uzur, lah laruik sanjo istilah orang Minang, beliau masih memiliki
semangat yang tinggi dan kepedulian yang besar terhadap urusan umat
khususnya Palestina.
Pak Natsir banyak meninggalkan karya tulis yang berkaitan dengan dakwah
dan pemikiran, sebagiannya diterbitkan dalam bahasa Arab, misalnya Fiqh
Da’wah, dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan).
Beliau juga menulis buku khusus yang membahas permasalahan Palestina
dengan judul Qadhiyatu Falisthin (Masalah Palestina).
Menurut Al Mustasyar Abdullah Al ‘Aqil, mantan wakil Sekretaris Jendral
Rabithah Alam Islami di Mekah Al Mukaromah, “Dr. Muhammad Natsir sangat
serius memerhatikan masalah Palestina. Ia temui tokoh, pemimpin dan dai di
negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela
Palestina, setelah kekalahan tahun 1967”.
Ketika redaktur majalah “Al Wa’yul Islami” Kuwait, ustadz Muhammad Yasir
Al Qadhami bersilaturrahim ke rumah pak Natsir, Februari 1989 dan bertanya
tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada dirinya dan mempengaruhi
perjuangannya, pak Natsir menjawab, “ Haji Syekh Muhammad Amin Al Husaini,
Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, dan Imam Hasan Al Hudhaibi. Sedang
tokoh-tokoh Indonesia adalah Syekh Agus Salim dan Syekh Ahmad Surkati.”
Di hadapan sekitar 2.000 orang yang hadir dalam acara Tasyakur 80 Tahun
Mohammad Natsir , di Masjid Al Furqan, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta
Pusat, 17 Juli 1988.
Pak Natsir menyampaikan kepada jama’ah, founding fathers, tokoh dan
pendiri Republik ini, ulama, zuama, cendikiawan dan generasi muda Islam
tentang perjuangan anak-anak dan pemuda Palestina melawan penjajah Zionis
Israel.
“ Soal Palestina yang selama ini macet, hidup kembali dengan demonstrasi,
pemuda-pemuda dan anak-anak sekolah yang secara spontan menyatakan protes
dengan beramai-ramai melempari dengan batu (bukan granat) dengan seruan
Allahu Akbar, kearah tentara Israel yang bersnjata lengkap.
Sudah delapan bulan yang demikian itu berjalan, sudah banyak yang syahid
ditembaki oleh tentara Israel. Tetapi mereka tak berhenti. Siapa yang
mnenyangka tadinya akan demikian semangat jiad anak-anak belasan tahun
berhadapan dengan angkatan bersenjata Israel…Demikianlah. Tak ada yang
tetap di dunia ini. Innazzamaana Qadistadaara (Zaman beredar, musim
berganti)”.
Pak Natsir wafat pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 1993 pukul 12.10 WIB
di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dalam usia 84 tahun.
Semoga Allah ampuni segala dosanya, diterima segala amal ibadahnya dan
dilapangkan kuburnya, dikumpulkan bersama para nabi, shiddiqin, syuhada
dan orang-orang shalih di dalam surga.
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa
yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan
segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata
(Lohmahfuz).(QS:Yaasin/36: 12)

Jumat, 13 Juni 2008

SYAIKH MUSTAFA AS SIBA'I

Syekh Musthafa As Siba’i nama lengkapnya adalah Syekh. DR.Musthafa Husni
As Siba’i dengan panggilan Abu Hasan, lahir di kota Himsh, Suriah, tahun
1915. Beliau anak dari seorang ulama, mujahid dan khatib yang terkenal di
masjid Jami’ Raya Himsh, Syekh Husni As Siba’i.
Pada tahun 1933, Musthafa As Siba’i pergi ke Mesir untuk menuntut ilmu di
Universitas Al Azhar, di Mesir beliau bertemu dan berkenalan dengan Imam
Hasan Al Banna, Mursyid Am Al Ikhwan Al Muslimin.
Ketika menjadi mahasiswa di Mesir, Musthafa As Siba’i tidak hanya sibuk di
bangku kuliah mengejar prestasi akademik, beliau juga aktif dalam kegiatan
ekstra kampus bersama Al Ikhwan Al Muslimin, melakukan pembelaan terhadap
umat dan ikut berbagai demonstrasi menentang penjajah Inggris tahun 1941.
Beliau juga ikut mendukung Revolusi Rasyid Ali Al Kailani di Irak melawan
Inggris. Akibatnya, beliau bersama teman-temannya ditahan pemerintah Mesir
atas instruksi penjajah Inggris. Musthafa As Siba’i mendekam dalam tahanan
sekitar tiga bulan, kemudian di pindah ke penjara Sharfanda di Palestina
dan mendekam di sana selama empat bulan.
Pada tahun 1942, beliau mengumpulkan seluruh potensi perjuangan umat Islam
di Suriah yang terdiri dari ulama, da’i, aktifis, tokoh-tokoh lembaga
Islam dari berbagai propinsi untuk berjuang dalam satu jama’ah yang
disepakati, yaitu Jama’ah Al Ikhwan Al Muslimin. Delegasi Mesir yang hadir
pada pertemuan itu adalah Ustadz. Said Ramadhan (menantu Imam Hasan Al
Banna).
Pada tahun 1945, diadakan pertemuan kembali dan para peserta pertemuan
sepakat untuk memilih Musthafa As Siba’i sebagai Muraqib ‘Am (Pengawas
Umum) Al Ikhwan Al Muslimin Suriah.
Tahun 1948 terjadi Perang Palestina, Musthafa As Siba’i, Muraqib Am Al
Ikhwan Al Muslimin Suriah memimpin langsung batalion Suriah dan bergabung
dengan 10.000 pasukan Al Ikhwan Al Muslimin dari berbagai negara Arab
untuk membantu rakyat Palestina yang sedang berjuang melawan penjajah
Zionis Yahudi.
Pasukan Syekh Musthafa As Siba’i dengan semangat jihad yang tinggi,
pengorbanan yang besar, berhasil masuk ke kota suci Al Quds, jika tidak
ada pengkhianatan para pemimpin Arab tentu Palestina akan lain ceritanya
dengan yang terjadi saat ini, itulah episode sejarah perjuangan yang
senantiasa dicemari oleh para pengkhianat penjual umat dan tanah airnya
karena cinta dunia dan takut mati.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul
(Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.(QS: Al Anfaal/8 : 27).
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari
nikmat.(QS: Al Hajj/ 22: 38).
Syekh Musthafa As Siba’i secara khusus menulis buku tentang jihad di
Palestina yang berjudul Jihaduna fi Filisthin. Di dalam buku Al Ikhwan fi
Harbi Filisthin, Syekh Musthafa As Siba’i berkata, Ketika berada di medan
pertempuran Al Quds, kami merasakan di sana ada manuver-manuver yang
terjadi di tingkat internasional dan tingkat pemerintahan resmi
negara-negara Arab. Kami yang tergabung di batalion Al Ikhwan Al Muslimin
memusyawarahkan hal-hal yang perlu kita tempuh, setelah adanya instruksi
kepada kami untuk mengundurkan diri dari Al Quds. Kami sepakat tidak mampu
menentang instruksi kepada kami untuk meninggalkan Al Quds, karena
berbagai pertimbangan. Kami juga sepakat sesampainya di Damaskus, kami
mengirim sebagian Al Ikhwan Al Muslimin ke Al Quds sekali lagi secara
sembunyi-sembunyi, untuk mempelajari apakah ada kemungkinan kembali lagi
kesana secara pribadi, demi melanjutkan perjuangan kami membela Palestina.
Kami kembali ke Damaskus bersama seluruh anggota batalion dan
komandan-komandannya yang bergabung dengan pasukan penyelamat. Pasukan
penyelamat ini melucuti persenjataan kami dan berjanji mengundang kami
sekali lagi bila dibutuhkan.
Tahun 1949, Syekh Musthafa As Siba’i meraih gelar Doktor dari Fakultas At
Tasyri’ Al Islami dan Sejarahnya dari Universitas Al Azhar dengan
disertasi berjudul As Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al Islami, lulus
dengan suma cumlaude. Dalam tesisnya tersebut As Sibaai' menyanggah habis
argumen kaum Orientalis tentang kedudukan As Sunnah dalam Syariat Islam.
Beliau juga menulis buku khusus tentang orientalis dengan judul,
Alistisyraq Wal Mustasyriqun (Orientalisme dan kaum Orientalis).
Tahun 1953, Syekh Mustafa As Siba’i menghadiri konfrensi Islam untuk
pembelaan Al Quds yang diadakan di kota Al Quds dan dihadiri oleh
perwakilan Al Ikhwan Al Muslimin dari seluruh negara Arab dan para tokoh
Islam dunia, termasuk saat itu hadir Dr. Muhammad Natsir sebagai wakil
Indonesia.
Selama tujuh tahun Syekh As Siba’i menderita lumpuh pada sebagian tubuhnya
termasuk tangan kirinya, tetapi beliau sabar , pasrah terhadap ketentuan
Allah, ridha terhadap hukum-Nya. Walaupun lumpuh sebagian tubuhnya tidak
menghalangi beliau untuk berdakwah dan membina umat.
Syekh Siba’i , tidak hanya piawai dalam menulis, ahli dalam pidato, beliau
juga memperaktekkan kewajiban agama dengan ikhlas dan mengharapkan ridha
Allah, padahal kondisi tubuhnya sudah uzur karena lumpuh dan sakit yang di
derita.
Beliau dengan menggunakan tongkat berjalan di pagi hari dan sore hari
menuju masjid untuk shalat, sujud dan rukuk kepada Allah, pada saat yang
sama ada orang yang badannya sehat, berjalan tidak bertongkat,
penampilannya memikat, enggan dan tidak mau datang ke masjid untuk
melaksanakan sholat, terutama sekali sholat subuh berjama’ah di masjid.
Hari Sabtu, 3/10/1964, Syekh. DR. Musthafa Siba’i, pembela Palestina dan
kota Suci Al Quds, pejuang yang gigih lagi sabar meninggal dunia di kota
Himsh. Jenazahnya diiringi rombongan yang besar dan dishalatkan di masjid
Jami’ Al Umawi, Damaskus.
Mufti Palestina, Syekh Muhammad Amin Al Husaini memberi kesaksian: Suriah
kehilangan tokoh besar mujahid agung. Dunia Islam kehilangan ulama besar,
ustadz mulia dan dai piawai. Saya mengenalnya dan melihat pada dirinya
keikhlasan, kejujuran, keterbukaan, tekad baja, motivasi kuat dalam
membela akidah dan prinsip. Ia memiliki kans besar dan peran nyata dalam
melayani problematika Islam dan Arab, terutama problematika Suriah dan
Palestina. Ia memimpin batalioon Al Ikhwan Al Muslimin demi membela Baitul
Maqdis tahun 1948.
Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima segala ibadahnya dan
memasukkan beliau ke dalam surga bersama para Nabi, rang-orang yang jujur,
para syuhada, dan orang-orang shalih, amin!


H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA
email: ferryn2006@yahoo.co.id

Rabu, 14 November 2007

Salam Ta'aruf

Bismillah...

Terucap lafaz luhur nan indah
Dari kalbu merindu rahmah

Agar terlerai dendam dan fitnah
Dan kita pun meraju ukhuwah

Bagimu...
Duhai Akhiku

Bagimu...
Duhai Ukhtiku

Semoga terlimpah rahmah maghfirah
Semoga tercurah nikmat nan berkah

Salam ta'arufku...

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barokatuh